Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni

Nelayan Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni

PADA bulan Juni yang cerah di perkampungan nelayan di Dusun Sinakak, Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai adalah masa ketika nelayan tidak memilih melaut, melainkan beraktivitas di darat.

Di Pulau Simatapi, tempat pemukiman mereka, para nelayan itu kembali ke sawah online roulette menanam padi. Atau merawat kebun pinang dan kebun lain yang mereka miliki seperti cengkeh, keladi, dan pisang. Ada juga yang membersihkan semak di sekitar pohon-pohon gaharu.

Mereka hanya pergi ke laut sebentar pada pagi hari untuk memancing ikan secukupnya sebagai lauk santapan keluarga. Ada sedikit harapan menemukan gurita, teripang, atau lobster agar bisa dijual. Tapi musim gurita dan lobster baru akan tiba pada Oktober.

Pulau Simatapi selama puluhan tahun menjadi saksi pasang surut kehidupan nelayan Dusun Sinakak. Pada 1980-an adalah masa kejayaan nelayan Sinakak berkat teripang yang melimpah. Saat itu harga teripang sedang tinggi.

Eliakim Samaloisa masih mengingat dengan jelas masa kejayaan itu. Pria 60 tahun itu mengatakan saat itu dengan penjualan teripang ia dan warga Sinakak lainnya bisa membangun rumah permanen. Bahkan ada yang kamar rumahnya lima dan enam.

Tidak mudah membangun rumah permanen di desa paling selatan di deretan pulau-pulau di Kepulauan Mentawai itu. Rata-rata rumah penduduk terbuat dari kayu, material yang paling mudah dan murah. Untuk membangun rumah permanen dibutuhkan semen, keramik, kaca, gagang pintu, dan material lainnya. Itu semua didatangkan dari Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat. Semua material dikirimkan dari Padang ke Sikakap, ibu kecamatan dengan jarak hampir 200 km dengan kapal. Jarak Sikakap ke Sinakak 3 jam dengan perahu mesin tempel. Akibatnya harga material bangunan sangat mahal.

“Waktu itu kami bisa membangun rumah permanen di Sinakak, padahal untuk ukuran di Mentawai itu sangat mahal,” katanya.

Warga Sinakak saat itu mencari teripang hingga ratusan kilogram per hari. Sebelum dijual teripang tangkapan direbus dulu, dibersihkan kulitnya, digarami, dan disalai di atas api hingga kering.

Sinakak Mentawai Tak Lagi Melaut di Bulan Juni

“Sebelumnya kami tidak tahu teripang itu bisa dijual, teripang itu tidak pernah juga kami ambil untuk dimakan, tapi saat kedatangan nelayan dari Madura dengan kapal layar ke Sinakak pada tahun 1978, saat itulah kami tahu teripang bisa dijual,” kata Eliakim.

Saat itu banyak nelayan dari Madura datang ke Sinakak dengan perahu layar yang besar. Mereka juga tinggal di atas perahu.

“Perahunya lebar, di tengahnya dibuat pondok seperti rumah dan mereka juga merebus teripang di atas perahu, mereka baru turun ke pulau untuk mencari kayu bakar, air minum dan membeli kelapa kami,” katanya.

Karena bersahabat dengan nelayan Madura, saat naik ke perahu nelayan Madura, warga Sinakak bisa melihat cara mengolah teripang dan juga cara mencarinya dengan menyelam. Setelah itu mereka mulai ikut mencari teripang dan mengolahnya seperti yang dilakukan nelayan Madura.

Saat warga Sinakak mula bisa mengolah teripang, pedagang teripang pun datang dengan kapal untuk membeli langsung. Bahkan kemudian penampung teripang juga ada di Sikakap, pusat Kecamatan Pagai Utara-Selatan waktu itu.

“Harga teripang saat itu hanya Rp1.000 per kilogram, sangat murah dibanding sekarang yang sudah mencapai Rp800 ribu hingga Rp1,3 juta per kilogram,” kata Eliakim.

Selain berkah dari teripang di laut, Sinakak juga mendapat berkah dari hutan di darat. Saat itu Indonesia juga ‘demam’ gaharu yang pohonnya banyak tumbuh alami di hutan Pulau Simatapi. Orang-orang dari luar datang ke Dusun Sinakak untuk mencari gaharu.

“Pohon gaharu namanya di sini Siboitek, batunya namanya gaharu, ada di dalam daging pohon itu juga hingga ke akar, batu itulah yang diambil untuk dijual, harganya sangat mahal,” kata Rasyid Samopo, mantan pejabat Kepala Desa Sinakak.

Saat itu, kata Rasyid, banyak pohon gaharu yang ditebang, walau tidak semua ada batu gaharunya. Pohonnya dikerok dan begitu ada bayangan batu gaharu berwarna hitam di dalamnya baru ditebang dan batunya diambil dengan hati-hati.

“Gaharu itu meledak di sini, satu ons saja dijual jutaan uangnya, kalau pandai masyarakat mengelola uang lebih bagus lagi, tetapi uangnya habis untuk roti, pakaian. Ada yang berubah ada yang tidak, padahal pendapatn mereka rata-rata sama, dari gaharu dan teripang,” kata Rasyid.

Masa kejayaan gaharu selesai saat pohon gaharu di hutan habis ditebangi. “Tapi kini masyarakat sudah mulai menanam pohon gaharu di ladang mereka, cuma belum ada hasilnya,” ujarnya.

Masa kejayaan teripang juga berakhir pada awal 1990-an, karena teripang ditangkap tanpa henti. B ahkan banyak yang menyelam mencari teripang memakai kompresor. Nelayan yang menangkap teripang juga banyak yang datang dari luar, seperti Padang dan Sibolga (Sumatera Utara). Akhirnya pada akhir 1990 teripang habis.

Setelah teripang habis mulai muncul lobster sebagai andalan baru dari laut, sebab harga ‘udang besar’ itu juga tinggi.

“Lobster juga ditangkap terlalu banyak, bahkan menggunakan potas, lubang persembunyiannya disemprot pakai potas sehingga semua lobster yang ada di dalamnya keluar dan ditangkap, akhirnya lobster juga berkurang,” kata Eliakim.

Setelah era lobster, muncul gurita pada awal 2000. Ini tangkapan yang akhirnya menjadi sumber ekonomi utama warga Desa Sinakak.

Shopping Cart